BUDI DAYA JAMUR KARDUS


" SELAMAT DATANG DI BLOG JAMUR KARDUS KINOKO CENTER TEGAL    "

      
                                                                                              
KAMI AKAN BUKA" RAHASIA "BAGAIMANA CARA BUDIDAYA JAMUR KARDUS.
                              
KAMI SIAP BANTU ANDA........, APABILA INGIN BELAJAR CARA BUDI DAYA JAMUR KARDUS....,TANPA PASTURISASI ...( PENGASAPAN ) ,HANYA SATU HARI...,SegeraHub: Hp 085869099919 Dan 087830349312  ( Bpk M. Julian ).

KAMI AKAN BANTU APABILA ANDA INGIN BELAJAR ,TAPI KARENA JARAK TEMPAT PELATIHAN YANG JAUH . KAMI BISA MENGIRIM KEALAMAT ANDA ,BERUPA MODUL PANDUAN CARA BUDIDAYA JAMUR KARDUS
YANG SANGAT BEGITU MUDAH DI BACA & DI PRAKTEKKAN ......

AYO SEGERA PESAN MODUL PANDUAN...!!!!!, DISKON 20 % ......,HARGA AKAN  NAIK !!!!!,   KAMI MENAWARKAN HANYA UNTUK 10 ORANG SAJA ....., AYO SEGERA PESAN ....ke Bpk julian

Hub : Telpon atau Sms

Hp :

Mentari Telpon & sms = 085869099919   

XL Telpon & sms    = 087830349312 

Ingin Tahu Video Tentang Jamur 
KLIK  LINK INI, DOWNLOAD GRATIS
 
GAMBAR ,HASIL PANEN JAMUR KARDUS ,TANPA PASTURISASI BESAR DAN KENYAL

Keistimewaan Jamur Kardus


Jamur kardus. Mungkin nama ini masih asing di telinga kita. Jamur kardus sebenarnya adalah jamur merang yang ditanam dengan media dari olahan kardus.
Sebenarnya, jamur merang dapat ditanam dengan media lainnya, seperti jerami, kompos, eceng gondok, alang-alang, daun pisang kering, ampas tebu, ampas aren, sisa tanaman kedelai, dan kertas puntung rokok. Namun, jamur merang dari media kardus ini ternyata memiliki keistimewaan tersendiri dibanding jamur merang yang ditanam di media lain. Di antaranya adalah:

a. Lebih Kenyal
Beberapa konsumen memang mengaku jamur merang yang dihasilkan dari media kardus berbeda dengan jamur lainnya. Soal rasa memang relatif, tergantung cara pengolahan dan bumbu yang digunakan. Namun, soal kekenyalan sepertinya memang tidak diragukan lagi.
b. Warna Lebih Putih
Warna jamur merang dari media kardus memang lebih putih, berbeda dengan warna jamur yang ditanam di media jerami yang cenderung kecokelatan. Warna ini memang tidak memengaruhi rasa secara langsung, tetapi setidaknya jamur yang berwarna putih terlihat lebih segar dan menarik jika dihidangkan, baik dalam bentuk basah maupun kering. Selain itu, jamur masih terlihat segar walaupun sudah dipanen lebih dari sehari.
c. Aromanya Wangi
Keunggulan jamur kardus lainnya adalah baunya lebih wangi dan tidak apek sehingga bisa langsung diolah. Hal ini dipengaruhi oleh tambahan kacang buncis, kangkung, bonggol pisang, dan bekatul pada media. Campuran media inilah yang membuat aroma jamur menjadi khas dan sangat berbeda dengan jamur dengan media jerami. Memang sebelumnya banyak orang yang mengeluhkan jamur merang yang menggunakan media tanam jerami karena biasanya berbau apek. Reaksi kimia pada jerami yang menjadi penyebabnya. Karena itu, biasanya orang merebus dahulu dan membuang air rebusannya untuk menghilangkan bau apeknya.





BUDI DAYA JAMUR MERANG DENGAN KARDUS


CIREBON : Meski usianya sudah mencapai 62 tahun namun Enjo Suharjo masih terlihat energik saat bercerita tentang usahanya merinstis pembuatan jamur kardus. Disebut demikian karena jamur merang (Volvarielle volvaceae) tersebut dibudidayakan pada median kertas kardus.

Titik-titik putih bakal jamur merang nampak pada median jamur yang tertata rapi pada rak-rak yang terbuat dari kayu dan bambu dalam kumbung (rumah berdinding anyaman bambu berukuran 4x4 m) di lahan tidur milik instansi militer di Kota Cirebon. Ada lima kumbung yang berjajar rapi dan dua kumbung kecil sebagai tempat belajar bagi siswa ataupun masyarakat membudidayakan jamur kardus ciptaannya.

Jamur kardus ternyata cocok tumbuh di Cirebon yang memiliki suhu panas. Jamur ini tumbuh optimal pada suhu 28 hingga 32 derajat Celsius. Meski demikian untuk mengatur pada keadaan suhu yang diperlukan rak-rak tempat median jamur tersebut ditutupi plastik bening dan suhunya dikontrol dengan thermometer.

Dia mengatakan jamur kardus bukanlah teknologi baru. Pada 1985, ketika masih berdinas sebagai penyuluh pertanian, Enjo menemukan sekelompok petani di Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, telah membudidayakan komoditas ini. Namun mereka tidak menggunakan media kardus, melainkan kertas bekas puntung rokok. Dia lalu mencoba merubah media jamur dengan kertas kardus dan berhasil.

Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, usaha petani di Losari ini tidak bertahan. Padahal, menurut Enjo, usaha ini menjanjikan keuntungan. Dengan masa panen tiga minggu untuk satu kali pembuatan media, keuntungan bisa dipetik sejak awal minggu ketiga.

Dalam perhitungannya dari satu paket media dalam satu kumbung memerlukan sekitar 1 kwintal median kardus yang sudah dicampur dengan bekatul dan kapur. Paket tersebut menghasilkan minimal 50kg-60 kg jamur per bulan. Bahkan jika perlakuan petani bagus dalam 1 kwintal media jamur bisa menghasilkan lebih dari 1 kuintal jamur. Setiap bulan paket media jamur harus diganti dengan yang baru agar produksi jamur maksimal.

“Pesarnya tidak sulit. Saya sendiri setiap minggu menyuplai sebuah rumah makan di Cirebon antara 15kg-20kg. Belum lagi pasar tradisional di Cirebon juga menerima jamur merang,” kata dia.

Harga jamur dari tahun ketahun selalu naik, pada 2001 saat merintis jamur kardus harganya hanya Rp6.000 per kg namun sekarang bisa mencapai Rp15.000 ditingkat petani dan Rp18.000-Rp20.000 per kg ditingkat pengecer. Jadi bisa dihitiung omset setiap bulan yang bisa diperoleh petani jamur.

Enjo mengatakan dari survei yang dilakukan kebutuhan jamur merang di pasar tradisional di Cirebon mencapai 2-3 kuintal perhari. Jumlah itu belum bisa dipenuhi oleh para petani jamur yang ada di Cirebon.


Sumber Berita ( http://www.beritacerbon.com )


PETANI JAMUR SELALU PANEN

BANYUDONO(Joglosemar): Jamur merang diminati oleh konsumen dan mulai “dilirik” oleh petani. Pada dasarnya jamur merang dengan nama asing Volvariella volvacea ini sangat bermanfaat dan memiliki kelebihan vitamin tinggi terutama untuk kandungan proteinnya sehingga jenis jamur merang cukup menjanjikan untuk dikembangkan menjadi bahan pangan.
Selain memiliki lahan pertanian yang masuk dalam kategori terluas di Boyolali, sejumlah petani di Kecamatan Banyudono juga tengah mengembangkan pertanian jamur merang tepatnya di dukuh Beranteharjo, Bangak, Kecamatan Banyudono.
Hal tersebut dituturkan oleh Mahmuri salah seorang petani jamur merang di desa Bangak yang tergabung dalam kelompok tani jamur Wahyu Makmur. Ia menjelaskan pengembangan jenis makanan dari tanaman jamur merang bisa diolah bermacam-macam variai masakan sesuai dengan selera. “Selain sup, jamur merang juga bisa dibuat keripik atau sate,” ujarnya saat ditemui wartawan di tempat pembudidayaan, Sabtu (2/2).
Ia menjelaskan bahwa produksi jamur bisa mencapai 30 kg per hari dengan harga jual Rp 10.000/kg Akan tetapi jika sudah sampai pasaran harga jamur bisa mencapai Rp 12.000 per kilogram.
Kelebihan lain, panen jamur tidak mengenal waktu. Artinya bila dalam satu tempat budidaya ruang jamur yang berukuran 4x6 meter telah beberapa kali di panen dan tidak produktif kembali, lokasi lain sudah siap untuk diambil hasilnya panennya.
Pasalnya, di lahan seluas kurang lebih 2000 meter persegi Mahmuri mendirikan bangunan tempat budidaya ruang jamur yang berjumlah lebih dari 5 tempat. Hingga bisa dipastikan panen selalu bisa terus berlanjut ketika satu tempat telah habis dipanen.
Suhu Ruang
Menurutnya ada hal utama yang harus diperhatikan dalam kondisi hujan seperti saat ini. Budidaya jamur merang dengan metode medium buatan seperti miliknya harus dipelihara dan harus selalu diperhatikan suhu ruangnya.
Suhu yang paling tepat menurutnya berkisar 30 derajat. Ia menjelaskan bahwa apabila suhu terlalu rendah maka jamur akan terlalu lunak, untuk mengatasi hal itu petani jamur merang mengunakan alat pengasapan yang digunakan untuk menjaga kestabilan suhu yang berguna untuk menjaga kekenyalan jamur.
Sementara itu untuk pengadaan bibit ia mengaku masih mendapatkan dari relasinya yang berada di Yogyakarta.
Sedangkan untuk distribusi jamur merang hasil panennya ia mengaku selain untuk pasaran lokal Boyolali ia juga mendapatkan permintaan dari luar kota seperti Surakarta dan Semarang.

Sumber Berita
( http://www.joglosemar.com )



Dari Dosen Menjadi Petani Jamur Merang

Oleh
Widjil Purnomo

KARAWANG – Bagi kalangan petani jamur merang (Volvariella volvacea) di Indonesia, sosok Ir Misa Suwarsa, Msc (49) sudah tidak asing lagi. Pak Misa, begitu ia biasa dipanggil, merupakan satu-satunya ahli jamur merang di Indonesia. Bahkan ia sukses mendidik dan melatih orang yang ingin menjadi petani seperti dirinya.
Itulah sebabnya, rumah Misa yang dikelilingi areal persawahan di Kampung Jatimulya, Mekarjati, Karawang, Jawa Barat, tak pernah sepi dikunjungi tamu, mulai dari pejabat, ilmuwan jamur merang hingga pedagang di pasar.
Menteri Pertanian (waktu itu) Bungaran Saragih merupakan pejabat yang paling sering berkunjung ke rumah Misa. Bahkan suatu kali, Bungaran Saragih datang membawa istri dan tamunya dari Uni Eropa untuk menikmati sate jamur merang.
Suami Yani Maryani (34) ini tak canggung mencangkul sawah bersama petani lain dan memikul jerami dari sawah ke tempat penyimpanan di dekat rumahnya. Tugas utamanya adalah memeriksa tubung-tubung (kamar tempat pembiakan jamur merang yang kedap cahaya) di dekat rumahnya, dengan dibantu sepuluh karyawannya.
"Saya ini petani dan keturunan petani. Jadi aneh rasanya kalau hanya berpangku tangan dan duduk di depan meja seperti orang kantoran," ucapnya terkekeh. Kehidupan bapak dua anak, yakni Muhammad Hidayatullah (10) dan Siti Nurjanah (3) ini sangat bersahaja.
Rumah induknya berukuran sekitar 4x6 m2 berlantaikan semen dengan dinding separuh tembok dan separuh kayu di bagian atas. Tidak ada perabotan yang istimewa kecuali rak yang berisi berbagai literatur.
Di samping rumah dekat tubung, terdapat bangunan tanpa dinding dan di sinilah ia menerima tamu atau berdiskusi dengan murid-muridnya di atas balai-balai.
Misa mengaku bahagia karena pemerintah memberi perhatian pada perkembangan jamur merang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini terbukti dengan dibentuknya Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Jamur Merang Indonesia oleh Departemen Pertanian yang dipusatkan di rumahnya dan mengangkat Misa sebagai kepalanya. Setiap periode, pemerintah mengirim utusan dari berbagai daerah untuk dididik dan dilatih menjadi petani jamur merang.
"Kini mereka sudah menjadi petani jamur merang. Ada yang sukses, tapi juga ada yang gagal karena jamurnya tidak bisa tumbuh dengan baik. Biasanya yang gagal ini, mereka tidak sungguh-sungguh ingin menjadi petani. Mereka hanya iseng saja," tuturnya.
Kiprahnya di bidang jamur merang, membuat Misa melenggang masuk Istana Negara. Ia mendapat penghargaan sebagai perintis budi daya jamur merang di Indonesia. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 27 Mei 2004. Pada tahun itu pula ia satu-satunya orang asing yang diundang Pemerintah China untuk mendalami jamur merang selama setahun di negara tirai bambu itu.

Petani Memprihatinkan
Menjadi petani jamur merang sebenarnya bukan cita-cita Misa Suwarsa, meski ia anak petani di Depok, Jawa Barat. Kesadaran ini justru muncul saat ia telah mapan sebagai dosen di almamaternya, Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). "Saya terkesan saat ngobrol dengan seorang profesor dari satu negara di Eropa yang saat itu menjadi dosen tamu di ITB," ungkapnya.
Profesor itu menyatakan
prihatin melihat petani Indonesia yang nasibnya sangat malang karena tidak bisa memanfaatkan potensi yang ada di sekelilingnya. Seandainya mereka bisa memanfaatkan jerami, kehidupan ekonominya pasti akan lain. "Jerami dibakar begitu saja. Padahal sisa abunya justru merusak kesuburan tanah karena mengandung karbon," ungkap Misa menirukan profesor itu.
Sebaliknya, jerami bisa dimanfaatkan sebagai media pembudidayaan jamur merang. Secara ekonomis, nilai jual jamur merang enam kali lipat dari nilai padi.
Sementara peluang pasarnya sangat besar, terutama China dan Jepang, juga negara-negara Eropa. "Seharusnya ada seorang ahli yang mau membimbing para petani itu agar bisa hidup sejahtera," katanya.
Mendengar ucapan itu, Misa tersentak lalu teringat orang tuanya sendiri yang kesulitan menghidupi anak-anaknya. "Hati saya bergolak antara tetap sebagai dosen atau terjun langsung membimbing petani. Akhirnya saya memutuskan keluar sebagai dosen ITB," kata Misa mengenang peristiwa 15 tahun lalu itu.
Rupanya keputusan itu tidak direstui orang tua. Tapi Misa yang kala itu masih bujangan, tetap nekad dan malah pergi ke Karawang. "Saya hanya mendengar kalau Karawang itu lumbung padi. Maka saya pergi ke sini, meski tidak punya bekal dan tidak punya saudara," ungkapnya.
Di Karawang, Misa langsung menuju sekelompok petani di sawah dan mengungkapkan keinginannya untuk membuat jamur merang. Namun ia justru ditertawakan karena sudah banyak usaha jamur merang yang gulung tikar. Hal ini tidak membuat niat Misa surut. Ia tetap minta agar dikenalkan dengan pengusaha jamur merang yang bangkrut itu.
Lantas kepada pengusaha tersebut, Misa menawarkan kerja sama, tapi ditolak karena sang pengusaha kapok membudidayakan jamur merang. Maka kemudian ia menyewa tiga tubung milik pengusaha itu. Di luar dugaan, ternyata tiga tubung itu membuka babak babak baru dalam hidupnya. Hanya dalam tempo sebulan, Misa bisa secara terus menerus memanen jamur merang dan menjualnya sendiri ke pasar. Tak ayal, ia langsung melunasi utangnya termasuk bunga yang digunakan untuk proses produksinya.
Sebelum masa sewa selama setahun habis, Misa sudah mampu membeli lahan di Kampung Mekarjati untuk membangun tiga tubung sendiri. Kini ia memiliki delapan tubung yang setiap tubungnya rata-rata menghasilkan 1.500 kg jamur merang setiap bulan.
"Para pedagang datang sendiri ke sini dengan membeli antara Rp 7.500 hingga Rp 10.000 per kg. Restoran di Jakarta juga ada yang pesan langsung dari sini dengan kualitas yang paling baik. Kami kewalahan melayani permintaan mereka," ucapnya.
Misa juga mengaku ada permintaan untuk mengekspor jamur merang, tapi belum bisa dilaksanakan karena permintaan dalam negeri saja belum bisa dipenuhi.
Bahkan ada sebuah bank asing yang cukup bonafit menawarkan bantuan finansial agar Misa bisa memproduksi besar-besaran untuk ekspor. "Saya menolak karena misi saya bukan seperti itu," tegasnya.
Sumber berita ( http://www.Sinarharapan.co.id )



Mudahnya Budi Daya Jamur Merang


Jamur merupakan salah satu makanan alternatif vegetarian. Tak hanya itu, jamur juga menjadi menu makanan berkelas dalam setiap hidangan karena tumbuhan ini memiliki kandungan gizi tinggi. Selain mengandung protein, kalsium, fosfor, dan kalori, jamur juga rendah lemak.

SAYANGNYA, belum banyak yang membudidayakan jamur. Kalupun ada, masih skala kecil meskipun mampu memberikan penghasilan cukup lumayan. Kendalanya justru pada benih atau bibit jamur itu sendiri yang selama ini masih didatangkan dari Bogor dan Karawang, Jawa Barat.

Di Dusun Wonogari, Desa Tulusrejo, Pekalongan, Lampung Timur, misalnya, beberapa tahun lalu telah diuji coba (kaji terap) budi daya jamur merang dengan memanfaatkan sisa-sisa tanaman padi.

Kaji terap yang ditujukan mendapat hasil tambahan selain bertani, dilakukan berkelompok dengan dana swadaya masyarakat dan stimulan dari Pemda Lampung Timur. Dan hasilnya cukup memuaskan.

Sementara di pinggiran Kota Bandar Lampung, budi daya jamur skala kecil mulai tumbuh dan terus bertahan. Seperti di Kampung Lingsuh, Rajabasa, dan Margajaya, Jatiagung, yang terus mengembangan usaha budi daya jamur ini.

Pembudi daya jamur di kedua wilayah tersebut merupakan binaan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung sejak tahun 2002.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lampung Ir. Masdulhaq, budi daya jamur merang ini sebetulnya memiliki prospek cukup cerah karena pasar masih menerima berapa pun jumlah yang dihasikan petani pembudi daya jamur.

"Sayangnya, justru produksinya yang belum stabil. Artinya belum mampu menyediakan kebutuhan pasar secara rutin," ujarnya, Senin (12-7).

Soal kendala bibit, menurut dia, sebetulnya bisa diproduksi di Lampung. Namun, karena jumlah pembudi daya jamur masih sedikit, pembuatan bibit dinilai belum efektif. "Seandainya sudah banyak yang membudidayakan, bukan mustahil bibit bisa kita produksi sendiri," ujarnya.

Saat ini pemasaran jamur merang yang ada tidaklah sulit karena pedagang justru yang datang ke tobong-tobong jamur dengan harga pembelian Rp12.000/kg. "Kalau sudah masuk pasar atau supermarket pasti harganya sudah beda," kata Masdulhaq.

Di dua desa binaan tersebut saat ini ada sekitar belasan tobong jamur yang terus bertambah. "Jika tidak memberikan untung, tidak mungkin tobong terus bertambah. Cuma permodalan juga menjadi tersendiri," ujar Kepala Dinas Pertanian itu.

Kandungan protein jamur cukup tinggi, dalam 100 gr jamur segar terkandung sekitar 3,2 gr protein, jumlah ini akan bertambah menjadi 16 gr jika jamur berada dalam keadaan kering. Selain itu, jamur juga memiliki kandungan kalsium dan fosfor cukup tinggi, 51 mg dan 223 mg, dan mengandung 105 kj kalori, dengan kandungan lemak rendah, 0,9 gr.

Dengan rasa cukup lezat, tak heran semua orang bisa menikmatinya, apalagi dengan variasi hidangan yang berbeda. Biasanya jamur juga menjadi campuran menu hidangan berkelas.

Tidak hanya itu, ternyata sejumlah jamur juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti jamur maitake yang mampu mengobati kanker dan AIDS.

Jamur maitake di Amerika dikenal dengan hens of the wood (ayam betina dari kayu). Sebutan ini muncul karena bentuknya yang mirip jengger ayam. Jamur ini juga dikenal sebutan raja jamur karena ada yg memiliki ukuran raksasa sebesar bola basket.

Meskipun memunyai dasar yg tampak kokoh, makin ke atas teksturnya makin rapuh. Karena itu, daya tahannya juga rendah. Jika dimasukkan dalam kantong kertas, maitake bertahan 7--10 hari dalam lemari es.

Maitake dapat disajikan dalam berbagi hidangan, salah satunya adalah dengan cara ditumis dengan sedikit minyak atau mentega, atau bisa juga dibuat campuran sop dan dapat juga digunakan untuk masakan segala jenis jamur.

Pada pertengahan tahun 1980, Prof.Dr. Hiroaki Nanba, Ph.D., peneliti jamur terkenal di Jepang, menemukan manfaat jamur maitake (Grifola frondosa) sebagai antikanker. Namun sejak awal tahun 1980-an itu, Pemerintah Jepang sebenarnya menyetujui tiga jenis ekstrak jamur untuk digunakan sebagai obat kanker.

Maitake tumbuh di daerah bagian timur laut Jepang. Secara harfiah, nama maitake bermakna "jamur menari" (dancing mushroom). Konon nama itu disebabkan kisah kuno, awal jamur maitake ditemukan.

Jamur shitake bentuknya mirip tutup seperti payung. Warnanya berkisar dari cokelat sampai cokelat tua.

Dibandingkan dengan maitake, jamur ini lebih tahan lama karena bisa bertahan sampai 14 hari dalam kantong kertas dan disimpan di lemari es. Shitake bisa digunakan untuk segala jenis masakan, tapi bisa juga digunakan sebagai campuran sup atau pasta.

Adalagi jamur kancing yang bentuknya mirip dengan kancing, bulat dengan tangkai pendek dan gemuk. Besarnya pun bervariasi dan teksturnya lembut.

Jamur yang masih muda ditandai dengan tudung yang menguncup, memunyai rasa yang lembut. Sedangkan jamur yang telah matang ditandai dengan membukanya tudung, memunyai warna gelap dan rasa lebih kuat.

Jamur ini bisa tahan 5--7 hari dalam lemari es, dengan terlebih dahulu dimasukkan dalam kantong kertas. Jamur mentahnya bisa digunakan sebagai garnish. Tapi, jika ingin dimasak bisa diolah untuk campuran sup.

Sementara jamur yang akrab dengan menu kita sehari-hari adalah jamur merang. Jamur ini paling banyak diolah menjadi campuran sup atau ditumis. Untuk mendapatkan jamur merang ini pun tidaklah terlalu sulit karena banyak tersedia di supermarket dan juga pasar tradisional.

Sumber Berita
Lampung Post. All rights reserved.

Artikel Di atas adalah Bukti Jamur Merang ,Masih Layak Untuk Di Budidayakan Karena Harga Sangat Tinggi dan di Pasar dan Masih Kekurangan Stok Jamur . Dengan di temukan Jamur Merang Dengan Media Kardus .Akan lebih Mempermudah Para Budi daya jamur yang Orang Hanya Mengenal Media Jamur Merang Dengan Merang Padi .

















TERIMA KASIH ANDA TELAH BERKUNJUNG DI BLOG JAMUR KARDUS DAN TERIMA KASIH TELAH MEMBELI MODUL JAMUR KARDUS DAN BIBIT DI KINOKO CENTER TEGAL



Salam Sukses Selalu


M. Julian
http://budidaya-jamurmerang.blogspot.com